• Breaking News

    10/20/2015

    Museum Tsunami, Sejarah, dan Air Mata

    Foto Sumber: Gerak-an.com
    KupasCopas | Museum Tsunami yang terletak di tengah Kota Banda Aceh merupakan satu dari sekian banyak bangunan menumental yang dimiliki oleh Bangsa Indonesia. Museum yang dirancang oleh Ridwan Kamil (Walikota Bandung) ini, terkenal unik serta menyimpan makna sejarah kesedihan. Bagaimana tidak, seketika memasuki museum yang memiliki luas 2.500 m2 ini disambut dengan gemercik air yang diselimuti suasana gelap, tatkala terowongan yang membawa pengunjung ikut merasakan suasana kegundahan hati para korban tsunami.

    Tidak cukup sampai disana, setelah melewati lorong gelap tersebut, pengunjung kembali diajak untuk merasakan proses terjadinya tsunami melalui gambar-gambar yang ditampilkan dibeberapa layar computer. Display gambar yang berdurasi sekitar 5 menit tersebut, menyajikan detik-detik pra-proses-hingga pasca terjadinya gemeliat tsunami.

    Setelah dari ruangan ini, pengunjung akan memasuki “Ruang Penentuan Nasib” atau “Fighting Room”, sering disebut juga The Light of God. Ruangan ini berbentuk seperti cerobong semi-gelap dengan tulisan Allah dibagian puncaknya. Hal ini merefleksikan perjuangan para korban tsunami. Dimana, bagi mereka yang menyerah ketika tersekap gelombang tsunami, maka nama mereka terpatri di dinding cerobong sebagai korban. Sebaliknya, bagi mereka yang merasa masih ada harapan, terus berjuang seraya mengharapkan belas kasih dari Yang Maha Menolong. Begitu mereka yakin akan adanya pertolongan Allah, maka mereka seakan seperti mendengar adanya panggilan ilahi dan terus berjuang hingga selamat keluar dari gelombang tersebut.

    Keluar dari cerobong, pengunjung dilanjutkan dengan sebuah jembatan yang bernama Jembatan Harapan (Hope Bridge). Ketika mencapai jembatan ini, para pengunjung akan disuguhi dengan melihat bendera 52 negara. Hal ini melambangkan uluran bantuan bagi beberapa negara yang telah membantu masyarakat Aceh agar tetap tegar menghadapi musibah tersebut. Melalui jembatan ini, pengunjung akan merasa seperti melewati air tsunami menuju ke tempat yang lebih tinggi.

    Setelah melewati jembatan yang berukuran panjang sekitar 20 m tersebut, pengunjung akan di sambut dengan pemutaran film tsunami selama 15 menit dari gempa terjadi, saat tsunami terjadi hingga saat pertolongan datang.

    Keluar dari sini pengunjung akan melihat banyak foto raksasa dan artefak tsunami, seperti: jam berdiri besar yang mati saat waktu menunjukkan pukul 8.17 menit, foto jam Mesjid Raya Baiturrahman yang jatuh dan mati juga pada saat tersebut, dan miniatur-miniatur yang mengingatkan bagaimana situasi dan kondisi Aceh seketika tsunami terjadi.

    Naik ke lantai tiga, terdapat bermacam-macam sarana pengetahuan gempa dan tsunami berbasis iptek. Diantaranya sejarah dan potensi tsunami di seluruh titik bumi, simulasi meletusnya gunung api di seluruh Indonesia, simulasi gempa yang bisa disetel seberapa skala richtel yang kita mau dan kalau beruntung anda juga bisa “ikut menikmati” simulasi 4D (empat dimensi) kejadian gempa dan tsunami. Selain itu juga terdapat desain ideal rancangan tata ruang bagi wilayah yang punya potensi tsunami.

    Tak lengkap apabila para wisatawan berkunjung ke tanah rencong tidak disempatkan waktu ke museum yang satu ini. Selain dari pada gratis, pembelajaran sejarah dan kenangan masyarakat aceh dapat dikenang melalui tempat ini.

    Sumber: Gerak-an.com