• Breaking News

    6/01/2017

    Invasi Haiti, 1994-1995

    Kapal induk Amerika Serikat, USS Eisenhower, jelang persiapan invasi AS ke Haiti, 1994 (Wikimedia Commons)
    KupasCopas | Invasi ini mengambil latar belakang saat presiden Haiti terpilih, Jean-Bertrand Aristide, dikudeta oleh militer yang dipimpin oleh Jenderal Raoul Cedras, seorang perwira angkatan bersenjata dengan tendensi diktator pada 1994.

    Tak mau salah satu negara tetangga terdekatnya dikuasai oleh seorang diktator, Presiden Amerika Serikat Bill Clinton memutuskan untuk menginvasi Haiti demi mengembalikan Aristide ke kursi kepresidenan.

    Dirancanglah operasi militer bernama Uphold Democracy oleh AS. Negeri Paman Sam menyiagakan Divisi Infanteri Lintas Udara ke-82, komponen Resimen Ranger ke-75, Pasukan Khusus ke-10, dan Angkatan Udara AS untuk menginvasi Haiti. Pasukan militer dan diplomat mendesak agar Jenderal Cedras mengembalikan tampuk kekuasaan kepada Aristide.

    Menyadari bahwa Jenderal Cedras tidak akan mampu menandingi kedigdayaan militer AS, ia pun menyerah dan mengembalikan kursi kepresidenan kepada Aristide.

    Baik publik AS maupun mayoritas Kongres AS dari Partai Demokrat dan Partai Republik awalnya menentang intervensi tersebut.

    Presiden Clinton berpendapat bahwa sebuah resolusi Dewan Keamanan PBB, mengijinkan intervensi anggota DK PBB terhadap sebuah negara yang dikudeta dan memberinya hak untuk bertindak tanpa persetujuan dari Kongres AS.

    Meski operasi itu sukses besar, akan tetapi Presiden Aristide tak mampu menjadi pemimpin yang baik. Ia terbukti memanipulasi hasil pemilu Haiti untuk terus duduk di kursi kepresidenan. Pada akhirnya, ia kembali dikudeta pada 2004, yang secara ironis menyalahkan AS atas pemakzulannya. (Liputan6)